Membuat konten secara rutin bukan perkara mudah.
Banyak pemilik bisnis dan pemula di bidang digital marketing mengalami masalah yang sama:
Hari ini mau posting apa?
Besok mungkin masih punya ide.
Tetapi setelah beberapa hari, mulai bingung lagi.
Akhirnya konten dibuat hanya ketika sedang punya waktu atau sedang mendapatkan inspirasi.
Padahal, digital marketing membutuhkan proses yang lebih terarah.
Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membuat content plan.
Menariknya, sekarang kita bisa menggunakan AI untuk membantu membuat content plan dengan lebih cepat.
Namun, AI bukan berarti kita tinggal meminta:
“Buatkan 30 ide konten.”
Kemudian semuanya langsung dipublikasikan.
Ada proses yang tetap harus dilakukan manusia.
Artikel ini akan membahas bagaimana menggunakan AI untuk membantu membuat content plan dari awal sampai siap digunakan.
Apa Itu Content Plan?
Content plan adalah rencana konten yang menentukan apa yang akan dibuat, untuk siapa, dengan tujuan apa, dan kapan konten tersebut dipublikasikan.
Content plan membantu kita tidak membuat konten secara asal.
Misalnya sebuah bisnis memiliki target:
Pemilik usaha lokal yang ingin mendapatkan pelanggan dari internet.
Kontennya bisa dibagi menjadi beberapa tema:
- edukasi;
- tips;
- masalah pelanggan;
- solusi;
- pengalaman;
- promosi;
- dan bukti hasil.
Dengan pembagian tersebut, kita tidak harus memikirkan ide baru dari nol setiap hari.
Kita sudah mempunyai arah.
Mengapa Content Plan Penting?
Content plan bukan sekadar kalender posting.
Ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan.
1. Tidak Mudah Kehabisan Ide
Ketika sudah memiliki daftar ide, kita tidak perlu memulai dari halaman kosong setiap kali ingin membuat konten.
2. Konten Lebih Konsisten
Kita dapat menentukan jadwal dan frekuensi publikasi sesuai kemampuan.
3. Konten Memiliki Tujuan
Setiap konten sebaiknya memiliki alasan.
Misalnya:
Edukasi → membangun awareness
Tips → memberikan value
Studi kasus → membangun kepercayaan
Promosi → mendorong tindakan
4. Lebih Mudah Dievaluasi
Kalau konten sudah direncanakan, kita dapat melihat tema mana yang mendapatkan respons paling baik.
Di sinilah content plan kemudian terhubung dengan prinsip:
Bangun → Perbaiki → Ukur
Apa yang Bisa Dilakukan AI dalam Membuat Content Plan?
AI dapat membantu beberapa bagian proses, misalnya:
- mencari ide;
- mengembangkan topik;
- membuat variasi angle;
- mengelompokkan ide;
- membuat kalender konten;
- membuat draft hook;
- dan membantu menentukan format konten.
Tetapi AI tidak otomatis mengetahui bisnis kita secara mendalam.
Karena itu, konteks yang kita berikan sangat penting.
Semakin jelas konteksnya, semakin mudah kita mengarahkan hasil AI.
Langkah 1 — Tentukan Bisnis dan Target Audiens
Sebelum meminta AI membuat ide, tentukan terlebih dahulu:
Bisnis apa?
Siapa targetnya?
Apa yang mereka butuhkan?
Misalnya:
Saya memiliki bisnis jasa desain interior untuk pemilik rumah usia 30–50 tahun. Target saya adalah mendapatkan calon pelanggan yang sedang merencanakan renovasi rumah.
Informasi seperti ini jauh lebih berguna daripada hanya mengatakan:
“Buatkan ide konten desain interior.”
Langkah 2 — Tentukan Tujuan Konten
Content plan sebaiknya memiliki tujuan.
Misalnya:
Awareness
Konten untuk memperkenalkan bisnis atau masalah yang dihadapi audiens.
Education
Konten untuk memberikan pengetahuan.
Engagement
Konten untuk mengajak audiens berinteraksi.
Trust
Konten yang menunjukkan pengalaman, proses, hasil, atau bukti.
Conversion
Konten yang mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan.
Tidak semua konten harus menjual.
Justru jika setiap posting hanya berisi promosi, audiens bisa cepat bosan.
Langkah 3 — Tentukan Content Pillar
Content pillar adalah kelompok tema utama yang menjadi dasar konten.
Contohnya bisnis laundry:
Pillar 1 — Edukasi
Cara merawat pakaian.
Pillar 2 — Tips
Cara menghilangkan noda.
Pillar 3 — Masalah pelanggan
Pakaian bau setelah dicuci.
Pillar 4 — Behind the scene
Proses laundry.
Pillar 5 — Promosi
Paket laundry.
Setelah content pillar ditentukan, kita dapat meminta AI mengembangkan ide dari setiap kelompok tersebut.
Langkah 4 — Gunakan AI untuk Brainstorming
Sekarang kita bisa mulai menggunakan AI.
Contoh prompt sederhana:
“Saya memiliki bisnis laundry kiloan dengan target mahasiswa dan pekerja kantoran. Buatkan 30 ide konten Instagram berdasarkan 5 content pillar: edukasi, tips, masalah pelanggan, behind the scene, dan promosi. Gunakan bahasa sederhana dan berikan angle yang berbeda untuk setiap ide.”
AI kemudian dapat membantu menghasilkan banyak kemungkinan.
Tetapi jangan langsung menerima semuanya.
Kita masuk ke tahap berikutnya.
Langkah 5 — Seleksi Ide dari AI
Ini bagian yang sering dilupakan.
Tidak semua ide dari AI harus digunakan.
Kita perlu bertanya:
- Apakah ide ini relevan?
- Apakah audiens membutuhkannya?
- Apakah sesuai dengan bisnis?
- Apakah pernah dibuat sebelumnya?
- Apakah kita punya pengalaman atau informasi yang cukup?
- Apakah ide tersebut cocok untuk platform yang digunakan?
Misalnya AI menghasilkan 30 ide.
Setelah diperiksa, ternyata hanya 15 yang benar-benar relevan.
Tidak masalah.
Kualitas lebih penting daripada jumlah.
Langkah 6 — Minta AI Mengembangkan Ide
Setelah memilih ide, kita dapat meminta AI mengembangkannya.
Misalnya kita memilih:
“5 kesalahan mahasiswa saat mencuci pakaian.”
Kita dapat meminta:
“Kembangkan ide tersebut menjadi konsep video TikTok 45 detik. Buatkan hook, isi, dan CTA dengan bahasa santai.”
AI dapat membantu membuat draft.
Kemudian kita sesuaikan dengan gaya komunikasi brand.
Langkah 7 — Buat Kalender Konten
Setelah ide tersedia, kita dapat mengubahnya menjadi kalender.
Contoh sederhana:
| Hari | Tema | Format | Tujuan |
|---|---|---|---|
| Senin | Tips mencuci | Reels | Edukasi |
| Selasa | Kesalahan laundry | Carousel | Awareness |
| Rabu | Proses laundry | Video | Trust |
| Kamis | Tips menghilangkan noda | Reels | Edukasi |
| Jumat | Testimoni pelanggan | Video | Trust |
| Sabtu | Promo | Reels | Conversion |
| Minggu | Tanya jawab | Story | Engagement |
AI dapat membantu membuat draft kalender seperti ini.
Tetapi kita tetap menyesuaikannya dengan kemampuan produksi.
Jangan Membuat Content Plan yang Terlalu Berat
Ini penting untuk pemula.
Kadang setelah menggunakan AI, kita mendapatkan:
30 hari × 3 platform × 3 konten per hari.
Kelihatannya keren.
Tetapi belum tentu realistis.
Kalau kita baru mulai, akhirnya baru berjalan beberapa hari sudah kelelahan.
Lebih baik:
3 konten berkualitas per minggu
daripada:
21 konten tetapi hanya bertahan satu minggu.
Content plan harus membantu kita bekerja.
Bukan malah menjadi beban.
AI Tidak Mengenal Bisnis Kita Sedalam Kita
Ini salah satu batasan penting.
AI dapat menghasilkan ide berdasarkan informasi yang kita berikan.
Tetapi AI tidak otomatis mengetahui:
- karakter pelanggan kita;
- pengalaman di lapangan;
- masalah yang benar-benar sering terjadi;
- pertanyaan pelanggan;
- alasan pelanggan membeli;
- atau kondisi bisnis kita.
Karena itu, masukkan pengalaman nyata ke dalam content plan.
Misalnya kita memiliki pengalaman:
“Banyak pelanggan saya ternyata bingung membedakan jasa A dan jasa B.”
Informasi tersebut sangat berharga.
Kita bisa menjadikannya ide konten:
“Apa perbedaan jasa A dan jasa B? Jangan sampai salah pilih.”
Inilah yang membuat content plan menjadi lebih relevan.
Contoh Prompt AI untuk Membuat Content Plan
Berikut contoh prompt yang bisa langsung digunakan.
Prompt dasar
Saya memiliki bisnis [jenis bisnis].
Target pelanggan saya adalah [target audiens].
Tujuan pemasaran saya adalah [tujuan].
Buatkan content plan selama 30 hari dengan beberapa content pillar yang relevan.
Untuk setiap ide, berikan:
- topik;
- angle;
- format;
- tujuan konten;
- dan CTA.
Gunakan bahasa sederhana dan hindari ide yang terlalu generik.
Prompt untuk memperbaiki hasil
Setelah mendapatkan hasil, jangan berhenti.
Kita bisa memberikan instruksi lanjutan:
“Dari 30 ide tersebut, pilih 10 yang paling relevan untuk pemula. Jelaskan alasan pemilihannya.”
Kemudian:
“Dari 10 ide tersebut, kelompokkan berdasarkan awareness, education, engagement, trust, dan conversion.”
Dengan cara seperti ini, kita berdiskusi dengan AI, bukan hanya meminta satu jawaban.
AI + Data = Content Plan yang Lebih Baik
Content plan yang dibuat hanya berdasarkan asumsi masih memiliki keterbatasan.
Karena itu, setelah konten dipublikasikan, lihat datanya.
Misalnya:
Konten A
1.000 views
Konten B
200 views
Apakah otomatis konten A lebih baik?
Belum tentu.
Kita juga perlu melihat:
- watch time;
- engagement;
- share;
- save;
- profile visit;
- klik;
- atau conversion.
Kemudian data tersebut bisa digunakan untuk membuat content plan berikutnya.
Pola kerjanya:
Buat konten → Publish → Ukur → Analisis → Perbaiki → Buat konten berikutnya
Di sinilah AI bisa kembali membantu.
AI dapat membantu mengelompokkan data atau menemukan pola, sementara kita tetap menentukan keputusan berdasarkan konteks bisnis.
Contoh Penerapan di DigitalMudah
Prinsip ini juga kami gunakan dalam mengembangkan DigitalMudah.
Kami tidak ingin membuat konten hanya karena:
“Hari ini harus posting.”
Kami mencoba melihat:
- topik apa yang dibutuhkan audiens;
- artikel apa yang mendapatkan perhatian;
- pertanyaan apa yang muncul;
- konten apa yang sudah dibuat;
- dan data apa yang bisa digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Contohnya, ketika melihat data Google Search Console, kami menemukan beberapa artikel DigitalMudah mulai mendapatkan visibilitas di Google dan bahkan muncul dalam laporan Fitur AI Generatif.
Data tersebut kemudian menjadi sinyal untuk memahami jenis konten yang mulai mendapatkan perhatian.
Artinya, content planning bukan sesuatu yang dibuat sekali lalu selesai.
Content plan juga perlu diperbaiki berdasarkan data.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menggunakan AI untuk Content Plan
1. Meminta AI Membuat 100 Ide Sekaligus
Banyak ide tidak berarti banyak ide bagus.
Lebih baik fokus pada ide yang relevan.
2. Tidak Memberikan Informasi Bisnis
Kalau konteksnya terlalu sedikit, hasil AI cenderung generik.
3. Semua Ide Langsung Dipublikasikan
Tetap lakukan seleksi.
4. Tidak Memiliki Content Pillar
Akhirnya konten menjadi campur aduk.
5. Tidak Memperhatikan Audiens
Konten harus dibuat untuk manusia, bukan hanya untuk memenuhi kalender.
6. Tidak Mengevaluasi Hasil
Content plan seharusnya terus berkembang berdasarkan data.
Apakah AI Bisa Membuat Content Plan Sepenuhnya?
Bisa membantu membuatnya, tetapi sebaiknya tidak diserahkan sepenuhnya kepada AI.
AI dapat membantu:
Ide → Struktur → Variasi → Draft
Manusia tetap menangani:
Strategi → Seleksi → Konteks → Eksekusi → Evaluasi
Jadi pembagian sederhananya:
AI membantu mempercepat proses.Manusia menentukan arah.
Kesimpulan
AI dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna untuk membuat content plan.
Dengan AI, kita dapat:
- mencari ide;
- mengembangkan topik;
- membuat content pillar;
- menentukan variasi angle;
- membuat kalender konten;
- dan mengembangkan ide menjadi konsep konten.
Tetapi jangan menggunakan AI hanya untuk membuat sebanyak mungkin konten.
Gunakan AI untuk membuat proses menjadi lebih terarah.
Mulai dari:
Kenali audiens → Tentukan tujuan → Buat content pillar → Brainstorm dengan AI → Seleksi → Buat konten → Publish → Ukur → Perbaiki
Dan jangan lupa:
Bangun → Perbaiki → Ukur
Karena content plan yang baik bukan hanya tentang apa yang akan kita posting, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar dari hasil posting sebelumnya.
🔗 Baca Juga
- AI untuk Digital Marketing: Pengertian, Manfaat, dan Contoh Penggunaannya
- Cara Menggunakan AI untuk Riset Keyword
- Cara Menggunakan AI untuk Membuat Artikel SEO
- Cara Menggunakan AI untuk Membuat Caption Media Sosial
- Cara Menggunakan AI untuk Analisis Data Digital Marketing
- Kesalahan Menggunakan AI untuk Digital Marketing
- AI vs Digital Marketer: Apa yang Berubah?

Komentar
Posting Komentar